
Bukan karena habis mendengarkan cerita istri soal tetangga yg. kurang memperhatikan (Jawa: nyio-nyio) anak bungsunya karena dianggap anak yg. tak diharapkan, saya ingin mengatakan bahwa saya juga temasuk anak yg. tak diharapkan.
Saya tahu pasti bagaimana kedua orang tua saya dulu membesarkan saya. Mereka sering marah2 jika saya berbuat salah, apalagi membuat ulah. Kata2 kasar kadang mereka lontarkan, kesal padaku yg. tak kunjung paham dg. rasa tanggung jawab.
Masih teringat olehku saat bapakku memukulku dg. kayu kecil gara2 aku berantem dg. kawan sebaya. Sepertinya mereka tidak sayang padaku.
Saya tahu pasti bahwa saya bukanlah anak yg diharapkan. Mereka tidak pernah berharap tumbuh janin di rahim ibuku setelah ke tujuh kakakku lahir. Mereka tidak pernah berharap aku tumbuh bersar dg tinggi badan pas-pasan. Mereka juga tidak pernah berharap aku tinggal jauh di negeri seberang. Sepertinya mereka tidak sayang padaku.
Tapi saya juga tahu pasti bahwa; mereka selalu berharap saya terlahir dg sehat dan selamat, tumbuh besar dg. sehat dan cerdas, hidup bahagia di mana dan kapanpun. Mereka tidak pernah menyesal punya anak saya. Mereka adalah orang2 yg. pandai bersyukur dg. menjaga amanat Tuhan walau mereka tidak memintanya (baca: mengharapkannya).
Berbagi